Akar dari Sekuntum Perpisahan

Akar dari Sekuntum Perpisahan




Duduk tenang dan tak terusik, fokus memikirkan kehidupan yang serba dipenuhi kesemrawutan. Hidup identik dengan masalah. Masalah satu belum terselesaikan beranak pulalah masalah yang lain. Merenung dan merenung, tak kunjung bergerak sebab bingung hendak dari mana aku akan memulainya. Lebih buruknya lagi benang yang semrawut itu tak ditemukan ujungnya, barangkali tertali. Hendak menyalahkanmu, mungkin aku yang lalai. Terlalu sibuk dengan urusan kerja yang tak ada habisnya. Pun untuk menafkahi keluarga kita. Jikalau tahu begini ujungnya lebih baik ku suruh kau berhenti saja ikut-ikutan mencari sesuap nasi. Terlampau pusing aku dengan inginmu. Kau buat heran aku dengan jalan pikiranmu itu.

Kau pikir ikatan perkawinan itu tak lebih dari sekedar lelucon, dan kau bisa mengatakan pisah semau hasratmu. Atau perlukah ku cungkil saja kedua bola matamu itu yang seolah-olah buta dengan hadirnya karunia Tuhan di antara rumah tangga kita. Kiko, terlelap setelah kubacakan serangkai kisah pengantar tidur. Beban pikirannya pun berat, aku tahu itu. Maka dari itu tak hendak ku menambah beban pikirannya di usianya yang masih menginjak enam tahun itu. Ku pusatkan perhatianku untuk menghindarkan dirinya dari rasa sepi seusai kepergian sang wanita keparat itu. Membuatkan sarapan, membangunkan, mengantarkan, menjemputnya sekolah dan memberikan sebuah dongeng pengantar tidur. Dan kuberikan kebebasan untuk bermain agar tidak terkekang selayaknya kuda pacuan.

Untunglah pekerjaanku tidak terpaut oleh waktu layaknya seorang pegawai negeri. Hanya sekedar membuka toko baju. Kau tahulah akan pasang surutnya pembeli ketika menjadi seorang pedagang. Namun sudah selayaknya untukku bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup yang lebih layak ketimbang harus tinggal di kolong jembatan, sembari memasang perangai yang memelas agar diberikan uang untuk menyambung hidup. Bukannya mengolok-olok hanya saja sebagai dasar wacana untuk selalu bersyukur kepada Tuhan.

Secangkir capuccino menemani kesendirianku meratapi sebuah hujan dan tak ketinggalan pula sebungkus rokok sebagai penenang pikiran. Terlintas di kepala ini hendak rasanya memunguti tiap rintik hujan. Sebagai pengalih atas kacaunya rasa dan karsa dalam jiwa ini. Kehidupan rumah tangga nyatanya tak semudah yang pernah kukira. Tanah aku punya, rumah sudah berdiri, pekerjaan pun sudah ada kukira itu sudah cukup untuk mendirikan bahtera rumah tangga yang rukun tanpa kekeruhan di dalamnya. Walaupun itu tak seluas, semegah, dan sekaya yang lainnya. Toh juga liang lahat hanya seluas dua kali satu meter dan dalamnya juga tak lebih dari satu setengah meter. Apakah semuanya akan kau bawa ke rumah terakhir tempatmu tidur selamanya itu?

Mantan istriku seorang PNS, mengajar di sebuah sekolah menengah atas. Ku pikir tak masalah jika seorang istri ikut andil mencari materi sekedar memenuhi keinginannya sebagai wanita karir. Namun lama-kelamaan gerak geriknya makin terlihat aneh, mulai dari sering marah-marah terhadap Kiko hanya karena masalah sepele, begitu pula denganku makin kerap pula ia marah-marah tak jelas. Karena yang kutahu dahulu ia tak pernah begitu. Wanita lemah lembut, sopan, cerdas lagi cantik pula yang membulatkan keputusanku untuk segera mempersuntingnya. Dengan gelagatnya yang demikian makin curigalah aku. Betapa tidak kini Smartphone yang digenggamnya selalu ia bawa kemana saja. Buang hajat sekalipun tak lepas benda itu dari genggamannya. Pernah pada satu ketika ia lalai atas benda itu, sekedar kupegang saja dan marahnya kian menjadi-jadi. Satu dua kata umpatan mulai keluar dari mulutnya. Tak hendak ku lawan sebab dikata apa jika aku berani membentak wanita.

Setelah kejadian itu tak ingin rasanya mulut ini berkata. Ku diamkan ia hingga berhari-hari sampai tiba hari dimana saat yang paling buruk terjadi. Ia sodorkan sepucuk surat cerai dihadapanku. Ku tatap matanya beberapa saat namun sorot yang ia tampilkan benar benar serius. Sesekali ku geleng-geleng kepala setengah heran dengan kemauannya. Serentetan kalimat keluar dari mulutnya saat itu benar-benar membuat ku merasa sangat terpukul. "Aku akan segera menikah dengan seseorang yang ada di tempat kerjaku" pungkasnya, tanpa sedikitpun terhalang oleh rasa ragu. Mataku sontak terbelalak, hingga mau copot rasanya. Dan bingingku sudah mencapai puncaknya. Kuajak berdiskusi dahulu pun ia sudah enggan. Diam seribu satu kata, sudah bagai tak dihargai lagi aku olehnya. Dengan perasaan bimbang akhirnya ku bubuhkan tanda tangan pada secarik kertas yang sebelumnya ia layangkan padaku. Dan itulah awal kehancuran bahtera rumah tangga, lumat sudah. Meninggalkan kenangan asam-manis yang tersisa. Rasa gagal pun semarak menghantui rasa.


Hendak ku sesali pun sudah tiada guna rasanya, walau galau kerap hilir mudik hinggap di kepalaku. Berpisah mudah hanya saja menghapus kenangan yang terlampau sulit kulakukan. Kini yang kulakukan hanya memikirkan bagaimana cara agar Kiko tidak menjadi seorang anak yang salah asuh atau kurang kasih sayang. Ku amanatkan seseorang untuk menjalankan toko bajuku agar aku tetap bisa makan. Walau pendapatan tak sebanyak ketika aku sendiri yang menjalankannya. Toh intinya bisa menyekolahkan putraku sudah cukup bagiku.

Pada satu ketika setelah mengantarkan Kiko ke sekolah, tiba-tiba ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk membersihkan pelataran di sekitaran rumah yang telah ditumbuhi banyak sekali ilalang bagai rumah tanpa penghuni. Sekedar mencangkul ringan menghilangkan ilalang yang subur layaknya diberi pupuk. Dan terkejut bukan main diriku mendapati beberapa benda yang tidak asing dalam perdukunan tertanam di pojok halaman rumahku. Sebuah kiriman dari ilmu hitam. Mungkin inilah akar percekcokan kami.*

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Akar dari Sekuntum Perpisahan"

  1. Semoga ini hanya fiksi. Serius ane bacanya, ternyata akhirnya dukun yg berperan dalam retakan rumah tangga. Pertanyaannya "apa masih ampuh ilmu dukun jaman sekarang"? Hehehehe

    ReplyDelete
  2. Hihi, cerita nya menegangkan ya, tulisan blog ini sangat bagus, biar bisa bikin cerita seperti itu gimana bang?

    Sulit dimengerti tapi menyayat hati.

    Makasih informasinya

    ReplyDelete
  3. Bagus bàng, bahasanya lebih dewasa dan dalam. Cocok untuk novel

    ReplyDelete