Klise Kedatanganmu dan Pengaduan Pilu

Klise Kedatanganmu dan Pengaduan Pilu


Kaki ini melangkah sayup, membawa segala penat dan letih dalam tubuh dan pikiran, yang membuat wajahku makin lusuh saja, setelah menunaikan tugas sebagai seorang karyawan. Dan kebetulan malam ini giliran ku untuk lembur, hingga rasanya seisi kepala ini hendak meledak saja. Dari tempat kerjaku menuju halte jaraknya lumayan jauh. Hingga kerap kali suatu umpatan kata kasar keluar dari mulutku. Entahlah apa yang dipikirkan lampu-lampu jalan yang berdiri kaku seolah sedang memperhatikan ku dengan cahayanya yang begitu temaram menghiasi gelapnya malam yang menjadi saksi bisu atas segala kata kasar yang meletup dari mulutku. Kendaraan hilir mudik acuh dengan keberadaanku dan tanpa memandang meski malam telah larut mereka riuh menebar polusi yang perlahan-lahan terasa sesak memenuhi isi paru ku. Suasana kota ketika malam memang selalu begitu.

Ku bakar sebatang sigaret sembari menunggu kedatangan bus yang akan membawa tubuh yang sudah terasa anestesi ini menuju ke persinggahan. Mungkin sesekali terlintas di pikiran betapa mudahnya jika memiliki kendaraan pribadi. Namun ku urungkan niat untuk itu sampai aku mendapatkan promosi jabatan di perusahaan tempat ku bekerja. Yah begitulah hierarki ketika kau bekerja di perusahaan, kau dibayar bukan berdasarkan seberapa banyak kerjamu tapi kau dibayar berdasarkan kualitasmu. Tak peduli kau bekerja dua puluh empat jam bagai kuda kesurupan dan ujungnya kau hanya seorang karyawan maka tetap segitu lah kau dibayar. Dan agar dapat mencapai promosi jabatan di lingkungan kerjaku maka aku harus menghilangkan segala ego ku untuk jadi manusia yang ingin dihargai. Menuruti segala permintaan atasan meskipun mereka menyuruh ku untuk sujud maupun jungkir balik dihadapan mereka. Aku tidak keberatan. Aku tidak ingin menjadi seorang idealis yang sangat tidak realistis mengingat bahwa kenyataan di dunia ini nyatalah sangat pahit adanya. Jadi menghayal lah sebanyak mungkin jika itu memang bisa membuat dirimu menjadi sedikit merasa lebih baik.

Sesampainya di rumah segera ku buat secangkir kopi, berharap kadar kafein di dalamnya dapat membantu ku terjaga untuk beberapa jam kedepan. Membuat presentasi pemasaran untuk sebuah produk baru perusahaan kami yang akan segera dirilis. Dan jika dalam presentasi kali ini berhasil maka mereka akan mengakui kinerjaku dan promosi jabatan akan berada dalam genggamanku sesuai dengan kesepakatan yang telah dibentuk sebelumnya. Ku persiapkan segalanya dengan matang, walau aku sadar sepenuhnya bahwa kesalahan akan terjadi dalam setiap kegiatan yang kita lakukan namun setidaknya aku berusaha menghindari dan meminimalisir adanya sebuah kesalahan dalam presentasi kali ini karena bagiku ini sebuah penentuan yang teramat sangat mendebarkan.

Cahaya matahari kembali hadir menghias horizon, dan lolong ayam menggebu bersahutan, mencoba menyadarkan manusia dari lelap mimpi mereka. Bergegas ku menuju tempat kerja dan tak lupa membawa segala sesuatu yang telah ku persiapkan sedari malam yang telah terlewati. Penuh harap bahwa presentasi kali ini akan berhasil. Seperti presentasi yang lalu selalu berhasil meyakinkan para atasan menembus angka pemasaran produk baru perusahaan kami. Dan dengan metode pemasaran sesuai apa yang telah ku paparkan penjualan produk kami meningkat sedikit lebih dibandingkan dengan sebelumnya. Aku berharap ini hari keberuntungan untuk ku.

Dan benar, tuhan tahu segala jerih upayaku, tuhan berikan kepada ku sebuah penghargaan atas usaha sulitku yang selama ini ku lakukan. Penjualan produk yang baru dirilis menembus angka penjualan yang telah ditentukan. Dan aku diangkat sebagai kepala divisi pemasaran. Dan ucapan selamat terlontar dari beberapa rekan kerja ku dan sisanya ungkapan kebencian bagi mereka yang benar-benar iri atas pencapaian yang telah ku hasilkan. Namun begitulah lingkungan tempat ku bekerja. Mau tak mau harus ku terima lapang dada.

Kali ini aku pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah mendapat apa yang ku cita-citakan pikiran ini terasa sangatlah lega. Walau sebenarnya seperti ada yang kurang dalam batin ini. Ku sempatkan untuk membeli beberapa cemilan sebelum pulang untuk merayakan pencapaian ku. Perayaan dalam kesendirian, mengingat usiaku yang hampir menginjak dua puluh sembilan tahun tapi masih belum juga mendapatkan seorang pendamping hidup. Jangankan menikah untuk berpacaran saja hati ini sudah enggan rasanya.

Dahulu pada satu masa aku pernah menaruh hati pada seorang wanita. Namun tuhan tidak menghendaki kebersamaan kami dan akhirnya dia dipersunting oleh salah seorang teman dekat ku sendiri. Walau aku tahu betapa buruknya tindak tanduk temanku itu, tapi aku selalu mendoakan yang terbaik dalam pelaminan mereka. Dan saat itu rasanya hati ini tak ubahnya sebuah gelas yang terlanjur ku titipkan pada seorang wanita dan ia menjaganya hanya dengan setengah hati, dan pada satu kesempatan ia jatuhkan gelas itu. Begitulah gambaran keadaan hatiku saat ini seolah-olah mati rasa. Tak peduli banyaknya pegawai cantik di tempat ku bekerja hanya saja aku sama sekali tidak tertarik terhadap mereka. Entahlah.

Masih seperti biasanya, sesampainya di rumah, sesegera mungkin ku mengekstrak bubuk kopi dengan air panas sebagai teman yang tepat untuk menikmati sebatang sigaret sebagai penenang dari segala ketegangan memikirkan caranya bertahan hidup di semesta yang terasa begitu kacau ini. Terdiam dalam heningnya malam, aku larut dalam kesendirian sembari mengingat kembali kenangan yang telah usai namun masih tertuang rapih dalam bentuk rentetan foto yang masih tersimpan di dalam kartu memoriku. Semua tentangnya perlahan hadir memenuhi benak ini seolah ia bangkit dari tidur panjangnya. Namun apalah daya dia kini telah resmi bersuami. Lebih tepatnya satu tahun lalu, namun belum dikaruniai sebuah momongan pun di dalam hubungan rumah tangga mereka.

Dan renungan ku pecah ketika ada rentetan suara ketukan yang menghantam pintu rumahku. Tak biasanya orang bertamu selarut ini, terlebih ini sudah tengah malam, pikirku. Bangkit dari tempat duduk dan ku hampiri suara ketukan itu dan rasa penasaran perlahan menghantui pikiranku. Namun betapa terperanjat bukan main diriku ketika mendapati seorang wanita yang sudah tidak asing lagi bagiku. Berdiri tepat di hadapanku. Datang ke persinggahan ku tanpa pengantar dari sebuah alamat terlebih dahulu. Dialah wanita yang padanya dulu pernah ku titipkan hati ini, Dewi.

Sebagaimana layaknya seorang tamu, ku persilahkan kau untuk masuk. Selagi kau duduk ku buatkan secangkir kopi sembari menatap wajahmu yang benar benar yang membuatku rindu. Kedua bola matamu begitu teduh mampu menghadirkan ketenangan tiada tara bagiku. Ah tapi siapa aku, lenguh ku lirih. Lalu ku suguhkan secangkir kopi padamu, dengan nada yang begitu kaku mulai ku buka obrolan santai sekedar menanyakan kabar atau bagaimana keadaan di desa. Namun sampailah pada satu titik ketika obrolan ini benar-benar terasa tabu, perihal pengaduanmu tentang tingkah laku suamimu kepadaku. Ku dengar setiap keluh kesah yang keluar dari bibir mu itu. Kau menceritakan semua keburukan lelakimu bahwa kau melihat dengan mata kepalamu sendiri lelakimu bersenggama dengan wanita lain. Dan perlahan butir bening menjauh dari matamu, dan mengkristal di ubin rumahku. Dan tiba-tiba kau memintaku untuk mengizinkan mu tinggal bersamaku. Kenapa tidak?, Toh permintaanmu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagiku.

Semenjak tinggal bersamamu barulah kurasakan betapa indahnya kehidupan ketika memiliki seorang pendamping hidup. Pekik alarm yang begitu bising membangunkanku kini tergantikan oleh lembut suaramu. Dua potong roti dan kopi sebagai sarapanku kini tergantikan oleh nasi goreng buatanmu. Kekosongan di kala pagi kini berubah menjadi canda tawa bersamamu. Pagiku benar benar terasa berbeda saat itu dan aku sangat menikmati momen bersamamu seperti dahulu, sebelum kita dipisahkan oleh ikatan perkawinan antara kau dan Bobby, suamimu. Dan secercah kebahagiaan kini kian menggeliat di sanubariku. Tiap detik yang ku habiskan denganmu terasa sangat berarti. Dan hendak rasanya waktu ku jadikan henti. Biarlah tetap begini, tanpa ada kepergian yang menjadikan ku kembali sendiri lagi.

Waktu gencar melangkah lalu dan tidak terasa sudah dua bulan kau tinggal bersamaku. Namun sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, kau bersamaku selama itu namun kenapa suamimu tak kunjung juga mencarimu. Dan hari ini bertepatan dengan libur panjang mendekati hari raya dan ku ajak kau untuk pulang bersama. Dengan kendaraan roda empat yang telah kumiliki semenjak promosi jabatan kala itu. Semuanya sudah terasa begitu lengkap. Dipromosikan oleh atasan dan ditambah kehadiranmu menemani kesendirianku. Anehnya kau menolak ajakan untuk mudik bersamaku. Dan ku putuskan untuk tidak pulang kampung karena terasa berat meninggalkanmu. Tapi kau terus saja mendesakku agar pulang kampung untuk melepaskan rindu kepada orang tuaku. Baiklah ku turuti kemauanmu, namun aku meminta padamu untuk selalu menghubungi ku. Dan kau pun setuju.

Sesampainya di kampung halaman ku ceritakan segala yang terjadi di kota terutama perihal kedatanganmu menemuiku kepada orang tuaku. Lalu seketika ibuku menangis sedan sedu setelah mendengar cerita dariku. Rasa bingung ku memuncak dan penuh rasa ingin tahu ku tanyakan kenapa beliau begitu. Awalnya ibu tak mau bicara dan tangisnya semakin pecah. Ku tatap bapak namun bapak hanya diam terpaku memandangiku. Seolah ada sesuatu yang tersirat namun terasa kelu lidah mengucap. Setelah tangis ibu mereda beliau akhirnya angkat bicara walau masih dalam keadaan setengah terisak. "Nak apakah kau tahu bahwa Dewi sudah pergi menemui sang pemilik cipta. Ia mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri setelah mengetahui empat mata bahwa si Bobby bersenggama dengan wanita lain dikamar rumahnya", "kau beristighfar lah nak, sabarlah menghadapi kenyataan yang ada nak" sambung ibuku.

Saat itulah tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang meleleh dari mataku dan terasa kian deras lah tetesnya. Spontan kaki ini berlari membawa tubuh ku menuju ke pemakaman umum yang jaraknya ratusan meter dari rumahku. Orang-orang hanya memandang ternganga keheranan mendapati gelagatku yang begitu, bagai orang yang sudah kerasukan setan. Menangis tersedu sembari lari menuju pemakaman dengan telanjang kaki. Dan benarlah terpampang jelas di mataku sebuah nisan yang di permukaannya terukir nama yang terasa familiar olehku. Lalu kenangan kebersamaan kita selama dua bulan terakhir perlahan memudar dalam ingatanku layaknya sebuah fatamorgana. Pergi bersama hembus angin musim kemarau yang desirnya terdengar begitu parau.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Klise Kedatanganmu dan Pengaduan Pilu"

  1. Mantap, kisahnya membuat kita cukup berpikir. Namun kekuatan diksinya tetap luar biasa.

    ReplyDelete