Tentang Hati

Tentang hati

 

 

Burung semarak menebar siul, nadanya terdengar selaras dengan desir angin kemarau yang sedang sibuk hilir mudik mereda gerah yang diderita manusia. Tepatnya di sebuah taman kota, yang letaknya tak terlalu jauh dari perusahaan tempat seorang lelaki itu bekerja. Sesekali matanya memicing pada sebuah jam yang melingkar di tangannya. Barangkali waktu istirahat telah usai, pikirnya. Ia duduk tepat di bawah sebuah pohon besar yang daunnya begitu rindang. Sangat teduh sekali sampai-sampai tak luput ia ketika istirahat selalu mengunjungi tempat ini. Sekedar melepas penat ataupun menumbuhkan imajinasi. Tak jarang juga ia sekedar memejamkan mata untuk menikmati udara sejuk di bawah pohon besar itu hingga ia ketiduran. Walaupun begitu ia selalu bangun tepat waktu ketika istirahatnya usai.

Dari segala kenyamanan yang ditawarkan oleh taman kota itu, sebenarnya ada beberapa hal yang membuat dirinya terasa terusik. Orang-orang yang sedang berpacaran di tempat itu. Ingin rasanya hati mengusir mereka, tapi rasionalnya taman kota adalah hak kepemilikan umum, jadi atas dasar apa ia mengusir mereka. Sebuah kemesraan atau barang kali keributan yang mereka tampilkan dijadikan sebagai dasar pengusiran. Namun kenyataannya mereka tidak seberisik seperti yang ia bayangkan. Itulah ketika keinginan dikalahkan oleh rasionalitas. Meskipun kau benar-benar ingin, tapi tindakanmu terbatas oleh garis intelektualitas yang terlihat begitu kontras. Dan akhirnya ia lebih memilih mengalah, beranjak menuju ke sebuah kafe yang terletak di sebrang taman untuk menghindari segerombolan para biadab yang seolah hendak membangkitkan kenangan yang telah lama ia benam dalam-dalam.

Rasionalitas kini telah memisahkan dirinya dari sebuah percintaan bodoh dalam kehidupannya. Kenapa ia harus menginvestasikan waktu, uang, pikiran dan tenaganya untuk menjadi budak cinta yang pada akhirnya kekecewaan yang tercipta. Alangkah bodohnya mereka yang melakukan hal seperti itu, benar-benar tidak ada sisi faedahnya. Seperti tidak ada kegiatan lainnya yang lebih bermanfaat daripada sekedar mencari kesenangan melulu. Namun kembali lagi pada rasionalitasnya, apakah ia berhak melawan hukum alam atas segala yang sewajarnya terjadi di dunianya. Bingungnya pun kian menjadi-jadi.

Hatinya telah dikunci, ia lebih memilih untuk sendiri ketimbang harus bersama para pendusta, pengerat lagi penjilat saja. Dengan mengatasnamakan kesetiaan ia selalu diperah keringatnya. Berinvestasi pada hubungan yang tak pernah berbunga menghasilkan kebahagiaan. Selalu berusaha keras menjaga komitmen namun sebatas digaji luka. Selalu mendengarkan tapi tak pernah didengarkan. Berbuat benar pun selalu disalahkan, apalagi berbuat salah?. Sudah cukup pahitlah ia mengenang masa itu. Dipermainkan layaknya boneka. Ditunggangi layaknya seekor kerbau. Ditali layaknya seekor penyalak. Dikekang layaknya pesakitan. Hanya sebongkah sengsara yang terasa.

Namun pada satu titik, hancurlah persepsi yang dia bangun sebelumnya. Ia pun tak sadar jika pertemuannya dengan seorang wanita kali ini menghilangkan sugesti yang tertanam jauh dalam pikirannya. Hatinya yang telah lama terkunci kini dibuka oleh seorang wanita yang berasal dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia telah mengingkari sumpah serapah yang terlanjur lumat dalam mulutnya. Dan kali ini rasa inginnya semakin menggeliat, mengalahkan rasionalitas yang ia bentuk susah payah sebelumnya. Lagaknya pun kini sudah bagai orang yang tak waras lagi, selalu menguntit kemanapun wanita itu pergi. Walau masuk jurang pun dia tetap sudi. Selalu menempel, tak ubahnya benalu. Dan usut punya usut mereka pun jadian.

Menjalani proses hubungan percintaan yang sejatinya selalu menemukan pasang surut layaknya yang dialami seorang pedagang atas jumlah pembelinya. Dan kalian pun sudah tidak asing lagi bagaimana rasanya ketika bosan menghantui. Itulah yang sedang dihadapinya kini. Lelaki itu sebenarnya tak bosan dan rasa sayang masih tertanam di dadanya, namun lawan mainnya sudah benar-benar muak akan lelaki itu, entahlah apa yang jadi alasannya. Dan hubungan itu berakhir ketika lelaki itu diselingkuhi, walau sejatinya ia berhak mendapatkan kesetiaan. Alam dan kehidupan sebenarnya telah memberikan kita banyak sekali pelajaran. Lihatlah dedaunan yang kian menguning terbawa arus waktu, itulah sejatinya usia, akan ada kematian di dalamnya dan tak terkecuali juga untuk sebuah perasaan. Dan ingat, jika kau yang mengunci maka sudah seharusnya kau yang membuka, karena kau sendiri yang membawa kuncinya dan jangan sampai orang lain yang membukanya. Sesungguhnya yang demikian itu disebut mencuri. Dan jangan pernah sesekali kau salahkan dia ketika kau kembali kecewa untuk yang kesekian kalinya, karena nyatanya dia tidak lebih dari sekedar pencuri biasa pada umumnya, tak berperasaan.

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Tentang Hati"

  1. Dasar burung jahat mau ngusir orang pacaran pula heheh. Bagus ceritanya bro.

    ReplyDelete
  2. Hhihihi seru juga bacanya min.... ajarin donk min bagaimana supaya saya bisa nulis kayak gitu.... keren keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak banyakin aja cuy baca materi tentang gaya bahasa/majas tuh. Biar bisa buat kata kata puitis

      Delete
  3. Kata kata nya sangat menyentuh nih, admin nya pasti romantis hihi, bagus bagus postingannya

    ReplyDelete
  4. Butuh pendalaman pemikiran ini buat bisa memahami tiap maksd dari cerita yg disajikan.. Terus terang ini cerita cinta yang mungkin bisa jadi nyata...

    ReplyDelete
  5. Bahasanya lues, alurnya mengalir lancar. Sebuah tulisan dari master.

    ReplyDelete
  6. Alur ceritanya nuansa percintaan. Ditambah lagi dengan penggunaan banyak majas. Sangat brilian sekali penulis dalam menuangkan ide ceritanya.

    ReplyDelete
  7. Gagasan disetiap kalimat cerita bagus, struktur alur ceritanya juga rapih dan tidak berantakan :)

    ReplyDelete