Kaidah Lebaran

Kaidah Lebaran




Awalnya kukira musim kemarau telah tiba, tak terpikirkan bahwa hujan masih menghiasi malam lebaran, hari ketiga lebih tepatnya. Purnama yang tadinya bersinar begitu lega pun tak menyangka akan diusik oleh konspirasi awan legam membuat sekeliling perlahan temaram. Senyumnya yang semula merekah kini telah dimamah oleh gumpalan mendung yang amat bergairah. Setengah terheran, sebab sepanjang yang ku tahu lebaran identik dengan kekeringan. Kemarau hadir sebagai pelengkap ujian di bulan ramadhan. Dan yang membuatku lebih heran kenapa tubuh ini seketika terasa sangat lelah, mungkinkah bila hanya sebuah resah mampu membuat semangat ini menjadi remah. Ah sudahlah, barangkali aku saja yang terlalu lemah. Memikirkan terlalu dalam perihal yang barang sedikitpun tiada mengandung faedah.

Peristiwa memang terjadi begitu acak tiada bisa kita tebak. Dalam keadaan setengah termenung aku menatap nanar rintik hujan sedang sibuk membasahi kulit bumi. Apakah semesta tahu apa yang sedang aku galaukan. Aku tak pernah mengharap peristiwa seperti tadi terjadi, terlebih saat lebaran. Bersilaturahmi ke tempatmu yang pernah jadi pujaan pada satu kesempatan. Memberanikan diri untuk sekedar menanya kabar namun hatiku yang terbakar. Saat ditengah perbincangan kau menyela seolah tanpa beban bahwa malam ini juga ia akan tunangan.

Barangkali langit bersimpati atas peristiwa duka yang menimpaku. Ia kirimkan gumpalan awan legam yang berdendang. Melantunkan naskah gemericik riuh hantaman butir hujan dan disambut oleh gemuruh yang kian semarak bersahutan. Kupikirkan sekeras apapun tak akan ada yang bisa kulakukan, selain ungkapan bahagia dipenuhi oleh kepalsuan yang terucapkan. Kukira kebersamaan kita akan ditakdirkan. Dan kini baru kurasakan bahwa berkhayal pun bisa hadirkan kekecewaan, terlebih saat tak menjadi kenyataan.

Tepat setelah azan ashar berkumandang, aku sampai di depan rumahmu. Tiada ku sangka bahwa gerimis yang menyambut kedatanganku ternyata tak lebih sebagai pertanda bahwa aku akan segera dianugerahi luka. Ku kumpulkan segenap keberanianku tatkala berada di ambang pintu. Digerayangi oleh rasa penasaran, seberapa banyakkah kau mengalami perubahan. Segera ku ketuk pintu, "Assalamualaikum," lantangku. "Waalaikumsalam, eh ada tamu yang tak diundang datang," celetukmu. "Memang harus ada surat pengantar untuk sekedar berkabar, toh mumpung masih lebaran" kataku. "Ya setidaknya berikan kabar agar aku bisa berdandan" godamu. Dalam batinku tak perlu lagi lah kau berdandan. Biarkan ku pandang indah paras alami, cantiknya wujud bidadari.

"Bagaimana kabarmu?," Ucapku membuka percakapan. "Alhamdulillah, baik kok. Bapak dan ibu di sini juga sehat-sehat semua,". "Kau sekarang bekerja di mana?," Tanyamu. "Kau pikir lelaki lemah sepertiku bekerja di mana, aku sedang memburu gelar, lantas apa yang kini kau lakukan?," Tanyaku balik. "Aku bekerja di Jakarta, yah hanya sebatas jadi pembantu rumah tangga,". "Tunggulah aku jika kau bersabar, aku akan mempersembahkan sebuah gelar," tawarku. Lantas kau tersenyum, namun tampak begitu kaku kali ini. Seolah ada yang mengganjal di tenggorokan untuk kau utarakan. Mendadak tawa kita meredam, seolah masing-masing dari kita khusyuk mendengar gerutu atap yang semakin kebasahan.

Lalu dari mulutmu terdengar untaian kata yang terangkai sedemikian rupa, tanpa ada sedikitpun rasa berdosa. Terdengar pelan namun amat memberikan kesan perih yang kurasakan. "Sayangnya malam ini aku akan segera bertunangan, tawaranmu sebenarnya tidak terlalu mengecewakan," ketusmu, sambil sedikit tersenyum seolah kau sedang mengajak bercanda tapi sedikitpun tak ada unsur jenaka. Namun terpaksa aku harus memilih untuk tertawa demi mencairkan suasana, walau di hati mulai merasa tersemai benih-benih luka. Pantas saja bila sedari tadi hidungku tak henti-hentinya menciumi bau bermacam-macam masakan seolah-olah bagai hendak hajatan. Ternyata nanti malam akan digelar pesta tunangan. Setelah kuanggap gerimis kelelahan, mungkin ini saat yang tepat untuk segera berpamitan. Kupilih untuk hengkang sebelum hati menjadi kejang. "Tidak ada kata yang dapat ku ucapkan selain semoga agendamu malam ini diberi kelancaran." Kataku seraya lekas berpamitan.

Sepanjang perjalanan pulang tiada lain hanya kata-katamu yang terngiang. Tersiram sinar senja yang merenta, sama seperti yang kurasa. Hatiku begitu keruh dan anganku kian meluruh. Roda motor terasa berotasi pelan, tak sampai-sampai rumah seakan. Perjalanan yang semula terasa dekat kini terasa amat jauh. Barangkali tanganku tak semangat menarik gas.  Dan parahnya, pepohonan pinggir jalan tampak girang sekali menertawakanku.

Secangkir kopi tersaji, sigaret terapit oleh dua jari. Masih dalam keadaan termenung pada satu titik aku tersadar. Kejadian tadi, apa gunanya terlalu kupikirkan, toh kau dulu sekedar gebetan. Walau pertemuan denganmu hari ini kembali memancing datangnya perasaan. Mungkin ini yang membuatku semakin tak bisa merelakan. Tapi apalah arti lebaran, jika kalian pikir hanya sebatas memaafkan. Jika kalian memang benar-benar ingin seutuhnya merengkuh hari kemenangan harusnya kalian tahu apa arti dari sebuah keikhlasan. Dengan cara mengikhlaskan inilah kita bisa memaafkan. Walau sulit perlahan hati kucoba untuk mengikhlaskan. Ku tata kembali segala kekacauan di dalam pikiran, berusaha merelakan agar terciptanya suatu kedamaian. Yang terjadi hari ini alangkah baiknya bila ku lupakan. Biarkan semua luruh terbawa derasnya arus dan riuhnya rintik hujan.*

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Kaidah Lebaran"

  1. jos banget,,,,muhafat
    https://serialkeynumber.blogspot.com/2019/06/free-download-wise-registry-cleaner.html

    ReplyDelete
  2. Bagus bgt, kisah yang menyentuh dan inspiratif. Terus berkarya

    ReplyDelete
  3. waw keren banget. Diksi nya bagus banget, majasnya juga dapet. Kita bisa memahami suasana dari cerita pendek ini. Lanjutkan kawan

    ReplyDelete
  4. Sepertinya saya pernah bada deh di situs lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf mas, untuk semua artikel yang ada di situs saya sejauh ini masih buatan saya sendiri. Sekalipun saya belum pernah mempraktikkan kegiatan plagiarisme, karena bagi saya pribadi ngeblog adalah sarana untuk menyalurkan ide, ekspresi dan hobi.
      Salam Inspirasi Kita.....

      Delete
  5. Wah, best deh, kata katanya sangat menginspirasi banget, bisa belajar lebih banyak nih dari blog ini

    Makasih informasinya 😃👌

    ReplyDelete