Lumat Hati Disialang Kepalsuan

Lumat Hati Disialang Kepalsuan




Mentari kembali hadir, dengan senyum kecilnya ia hias horizon di ufuk timur. Tampak begitu malu-malu berselimut awan kelabu. Kabut terhambur bebas, bercampur dengan butir-butir embun. Sekeliling tampak menjadi keruh, mengaburkan pandang. Menawarkan rasa dingin mengusik tiap jengkal tubuh yang sedang berusaha kembali mengais karunia Tuhan. Tak beberapa lama langit pun kian muram, diikuti iringan terjun rintik-rintik tak berdosa membuat tubuh tak berdaya ini terasa makin menggigil saja. Hati getir walau nyatanya kami harus tetap bersyukur menyambut datanganya butiran anugerah. Sebagai sumber beribu kehidupan, menjaga keberlangsungan siklus hidup. Sebab mata pencaharian di desa kami adalah perkebunan, terutama sekali kebun karet. Dan kami memang terasa terganggu saat hujan mampir tanpa memberi aba, terlebih menjelang pagi tiba


Kaki ini membimbing tubuh yang rentan menuju rumah, walau dengan rasa sedikit terpaksa karena harus diusir oleh riuh hantaman hujan. Namun tak masalah bagiku, barangkali Tuhan memang ingin melihatku beristirahat barang sejenak. Sebab Ia lelah melihatku hilir mudik tak henti hingga senja tiba, demi memburu rupiah laiknya kuda yang lama tak diruwat. Setidaknya ini kujalani sampai tiba masanya musim liburan berakhir, dan aku kembali memintal ilmu ke negeri perantauan nun jauh dari tempat tinggalku berada. Meninggalkan rumah tuk sementara demi menggapai asa, berjuang demi mendapat toga, katanya. Dan harapannya semoga semua yang kulakukan tak sia-sia, terlebih segala jerih upaya dan semua yang telah menjadi usaha. Cepat wisuda agar tak jadi beban pikiran orang tua dan diberikan kemudahan tuk diterima ketika menyodorkan formulir pendaftaran kerja. Sederhana bukan, walau nyatanya proses yang dibutuhkan untuk mencapai itu semua memakan waktu yang lumayan lama.

Mungkin kita sebagai seorang Mahasiswa sebaiknya tak perlu terlalu naif bahwa di balik kehidupan kita yang seolah serba bergelut dengan segala yang berkaitan dengan teori, sesekali terlintas yang namanya jatuh hati. Pun kau tak perlu lagi risau atau gundah secara berlebihan memikirkannya. Karena pada dasarnya manusia diberi hati di setiap penciptaannya, walau dengan kadar tuk merasa yang berbeda-beda. Sama dengan apa yang kurasakan saat ini, ketika hati bingung mencari tempat yang layak tuk disandari. 

Pertemuanku dengannya, tak serumit yang kau bayangkan. Bahkan sesekali aku pun sempat heran, memikirkan kronologis tentang bagaimana ku bisa menaruh harap serta hatiku padanya. Begitu sederhananya hingga ku hampir tak percaya. Pertemuan lantaran hanya dengan sebatas melihat sebuah foto. Ya, foto dirinya yang dijadikan sebagai story di salah satu akun media sosial temanku. Dan mendadak terasa seperti ada yang sedang menyentuh lembut di hatiku, mengusik ria hadirkan bahagia. Terasa di luar nalar bisa melihat potret paras secantik itu bagiku. Sepanjang ku mondar-mandir di kampus pun belumlah ada seseorang yang mampu mengusik rasaku. Namun pada seorang inilah hendak rasanya hati memiliki.

Tanpa mengkusutkan pikir lagi kuberanikan diri bertanya pada temanku, siapa gerangan gadis yang ada di foto story media sosialnya itu. Nyatanya pertanyaan yang ku sarangkan tak berjalan semulus seperti apa yang jadi dugaan. Hal ini begitu nampak, tatkala mulut temanku ini terasa makin sumbing saja. Bagaimana tidak, saat kutanyakan perihal nama gadis itu sembari menahan penasaran yang hendak meledak rasanya, temanku malah mencoba mengalihkan pembicaraan. Menjadi tidak sesuai dengan apa yang diingin oleh telinga. Coba ku luruskan pembicaraan kami, namun selalu saja tak beraturan lagi. Rasa kesal pun lepas kendali, sambil memaki ku tanya nama gadis itu lagi, dan barulah kebenaran sejati kudapati.

Sesigap mungkin ku tarikan jari di atas tuts aksara, mencari namanya di berbagai macam platform media sosial, akun gadis yang alangkah aduhai membuat diriku kian gemas ini. Dengan perasaan yang berbunga-bunga bagai kuburan bertabur kembang tujuh rupa dan khasnya aroma Kamboja menghias pemakaman rupanya. Bersiul-siul girang tak memandang waktu telah terlampau petang. Tersenyum-senyum sendirian layaknya pesakitan. Semua itu kulakukan, di alam bawah sadar tentulah. Dan akhirnya, usai sudah penantian ketika menemukan apa yang ku inginkan. Lalu mata ini meraba liar dengan cermat memandang dengan seksama beberapa foto yang terpampang di beberapa status akun miliknya, ya sekedar memastikan saja. Setelah merasa orang yang kutuju telah tepat, jemari ini kembali menyibukkan diri lagi dan kepala kupaksa untuk kerja keras kesekian kali, memburu kata yang tepat untuk membuka sebuah percakapan tentunya. Mengetik hapus lagi, bagai tak usai-usai hingga tak terasa terbit keringat sebesar biji kemiri. Jantung kian menderap degupnya, bertaruh harap semoga pesan yang ku kirimkan segera mendapat balasan.

Kemudian perkenalan kami berjalan baik-baik saja. Dan mungkin bagiku ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki keadaan hati yang telah berkali-kali termamah oleh harapan yang tak pasti dan janji yang tak bisa memberi bukti. Dan harapanku semoga tidak terjadi lagi mimpi buruk yang kesekian kali untuk pertemuanku dengan gadis ini. Bersamanya mengubur kenangan-kenangan pahit yang pernah kulalui. Membuka lembaran baru menorehkan kisah indah guna merangkai hari yang lebih pasti. 

Namun pada satu titik, keraguan kembali erat memelukku. Akankah semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kumau?. Bisa saja ia keluar dengan apa yang telah digariskan oleh anganku. Kenyataan pun tak selalu sejalan dengan apa yang menjadi imajinasiku. Dan apa yang telah kami ketik selama ini cuma sebatas tumpukan sampah baginya. Karena tak selamanya apa yang kita lihat selaras dengan konteks kejadian yang sebenarnya. Barangkali saat ku lihat percakapanku dengannya seolah seperti sejoli yang sama-sama memupuk rasa, walau nyatanya tak lebih sekedar memboroskan harapan yang kumiliki untuk dirinya. Rasa cemas mulai membumbung tinggi mencapai puncak kekritisanku. Terbesit di benakku, apa mungkin semua yang terjadi sampai saat ini ku sudahi saja.

Ku penjara rasa inginku, menambat jari agar tak bergerak bebas membentuk kata tanya perihal yang sedang ia pikirkan dan lakukan saat ini. Kusurutkan angan tuk berbincang ria dengannya. Walau aku sadar semua itu memang tidaklah mudah, namun kulakukan demi memenuhi rasa penasaranku. Apakah ia akan membuka perbincangan terlebih dahulu?. Entahlah, anganku menebak-nebak tak tentu. Ku sandarkan tubuh pada dinding ruang tamu, menatap nanar butiran hujan di sebalik kaca yang berdebu. Namun lamunanku pecah ketika ponsel yang tergenggam di tanganku bergetar lembut, mengisyaratkan bahwa ada sebuah pesan yang baru saja masuk. Pesan darinya. Seolah ia sedang meyakinkan raguku bahwa ia bukanlah gadis penjaja kepalsuan.

Kini diri semakin menggeliat yakin, bahwa apa yang ia rasa serupa dengan yang kurasa. Jalinan kisah pun terangkai, kata-kata indah kini menjuntai. Seolah tak akan ada salah satu pihak yang tercederai. Dan kebahagiaan ku kali ini tak hendak rasanya usai. Takkan ku biarkan waktu melerai. Senangku meletup tak keruan saja, dapat memiliki bidadari di kehidupan yang begitu fana ini. Sebelumnya yang kutahu hanya mengandai-andai tak pernah bisa menggapai. Tuhan maha penyayang ternyata, disebalik tubuh yang penuh berlumuran dosa, Ia kirimkan bidadari melalui wujud rupanya. Bagiku indah tiada duanya, hingga sampai pada satu masa batin ini kembali lebih kecewa dari sekian kecewa yang pernah terlalui sebelumnya.

Bermula dari sebuah rasa ingin yang tak terbilang, menemuinya untuk memberikan sebuah buku yang kudapat dari sebuah perlombaan cipta cerpen nasional, sebagai imbalan atas prestasi yang kuraih, sebagai pemenang sepuluh besar dari sekian ribu cerpen yang disodorkan para pengarang. Kuberikan buku itu sebagai ucapan terima kasih karena telah memberikan informasi dan secercah semangat membuatku makin menggeliat untuk berkarya. Terlihat sepele bukan, tapi bagiku merupakan sebuah kontribusi besar yang tak bisa ditukar dengan suatu apapun, begitu pula semangatku untuk menemuinya. Sengaja tidak kuberi tahu perihal inginku menemuinya, berharap ini bisa jadi kejutan kecil untuknya.

Kami memang berbeda kampus. Bertemu pun, butuh waktu beberapa jam untuk menjangkaunya. Dengan perasaan yang berbunga-bunga akan ku persembahkan kabar bahagia ini. Sesekali menghayal bahwa kami akan segera tertawa gembira sebagai pelengkap merayakan prestasi yang berhasil ku rengkuh. Ya, menghayal semauku. Selagi menghayal belum dikenakan tarif barang satu sen pun. Dan menghayal memang tidak lebih dari sekedar mengarang cerita bahagia, dikarang oleh akal guna memenuhi kepuasan semata. Kenyataan masih kukuh dengan pendiriannya, bisa saja tak sejalan dengan apa yang kita kira.

Ku putuskan untuk mampir di sebuah kafe, tidak begitu jauh dari tempat ia tinggal. Kutarik sebuah ponsel dari saku celanaku, tak ayal lagi segera ku meneleponnya. Karena ruangan kafenya yang begitu besar, saat ku tempelkan ponsel ke telinga, sedang telinga yang lainnya sayup-sayup mendengar suara dering yang barangkali sudah tak asing lagi. Tampak orang di seberang sudut tempatku duduk tengah sibuk berusaha mematikan dering nada ponselnya. Awalnya kupikir ini semua hanya kebetulan saja, kejadian acak yang disajikan oleh semesta. Dan kupikirkan lagi dengan seksama nada dering dari beberapa jenis ponsel yang satu merek, tentulah akan ada yang sama. Namun rasa penasaranku semakin menjadi. Coba ku ketikkan beberapa rangkai kalimat perihal kedatanganku menemuinya, sengaja kubuat panjang biar memerlukan waktu untuk membacanya. Perlahan kaki ini melangkah, menghampiri kedua sosok sejoli yang tengah asyik memperbincangkan sesuatu yang tak mampu memancing rasa peduliku. Dan benarlah obrolan mereka terhenti ketika sang gadis seketika sibuk memandangi ponsel yang tengah digenggamnya. Tubuhku berdiri tegap tepat di belakang gadis itu. Ku sempatkan mata tuk membaca beberapa patah kata yang tampil di layar ponselnya dan tak salah lagi itu pesan yang dihasilkan oleh tarian jemariku. Wajah gadis ini lebih tak asing lagi dalam pandanganku.

Sontak kubanting buku yang sedari tadi kugenggam kesana-kemari di atas meja kedua sejoli ini. Dengan segera ku tinggalkan kafe yang kedepannya akan selalu kuingat sebagai tempat bernaungnya sebuah derita. Dan kukira pertemuan dengannya adalah sebuah jalan untuk merangkai kembali hati yang sebelumnya telah hancur berkeping-keping, namun ujungnya pertemuan dengannya membawa hatiku kembali menjadi kepingan yang tak berarti, lebih buruknya hati ini kehilangan beberapa keping di berbagai sisi. Kupikir pembicaraan kami tak perlu diteruskan lagi, sebelum hati cacatnya kian menjadi-jadi. Kini kusadari bahwa kepalsuan selamanya takkan butuh sebuah pengakuan, cukup saja kau perhatikan bagaimana lihainya ia mempermainkan perasaan. Lalu akan kau temui sebuah kesimpulan, "begitu piciknya ia bukan?".*

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Lumat Hati Disialang Kepalsuan"

  1. Wah, kasian juga ya, sedih kalo gini akhirnya.

    Makasih atas cerpennya kak

    ReplyDelete
  2. Kalimatnya indah, namun paragrafnya terlalu panjang. Mungkin bisa dipecah jadi lebih pendek-pendek.

    ReplyDelete
  3. Cerita yang sangat memukau di hati..Mantap sekali.

    Saya Punya Ini What's On Your Mind Pokoknya seru.. Silahkan datang ya


    Salam

    ReplyDelete
  4. Apakah memang beneran pernah juara cerpen? Hebat yaa

    ReplyDelete